top banner
  I  

Kamis - 27 Agustus 2015 07:20:34 WIB

PAMSIMAS Tumbuhkan Budaya Gotong Royong

Artikel
Administrator | dibaca: 51068 pembaca

PAMSIMAS Tumbuhkan Budaya Gotong Royong

 

Oleh : Sardi AK, SH, Ketua Umum DPP Asosiasi P-SPAMS Tirta Nusantara Lestari, Wakil Ketua BP SPAMS Tirto Makmur Abadi

 

pamsimas tumbuhkan 1Program PAMSIMAS dari Dirjen Cipta Karya Kemen PUPR di Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah telah dilaksanakan di 87 kelurahan. Program yang melibatkan langsung masyarakat, mulai dari perencanaan sampai pasca program telah menumbuhkan kembali budaya gotong royong yang dalam era global ini terasa mulai tergerus.

Salah satu cirri khas bangsa Indonesia adalah budaya gotong royong. Dengan kata lain bahwa gotong royonglah yang menjadi ciri utama manusia Indonesia pada umumnya. Konsep ini telah diciptakan Indonesia ribuan tahun silam Indonesia telah menciptakan konsep ini, yang bisa kita lihat pada setiap upacara keagamaan, upacara kelahiran dan kematian yang semua warga berkumpul untuk mengerjakan apa yang perlu mereka kerjakan tanpa imbalan apapun.

Sesungguhnya budaya gotong-royong merupakan kekuatan besar budaya masyarakat yang perlu dikembangkan terus di negeri ini. Sehingga pemerintah melalui Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), melahirkan Program PAMSIMAS. Sebuah program Penyediaan Air Minum dan Sarana Sanitasi Berbasis Masyarakat yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan akses ketersediaan air bersih dan air minum bagi masyarakat yang dibarengi dengan swadaya masyarakat, dalam pemenuhan sarana sanitasi bagi keluarganya.

Di Kota Semarang, Program ini dilaksanakan mulai tahun 2008 dan sampai sekarang telah terlaksana di 87 kelurahan. Sedang secara nasional, program ini telak dilaksanakan di 11 ribu desa/kelurahan lebih tersebar di 32 provinsi di 220 kabupaten/kota. Dengan PAMSIMAS, diharapkan masyarakat pedesaan dan peri-urban, dapat mengakses pelayanan air minum dan sanitasi yang berkelanjutan serta meningkatkan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Penerapan program ini dalam rangka mendukung pencapaian target universal access 100-0-100 (100% terlayani air bersih, 0% permukiman kumuh dan 100% sanitasi layak) tahun 2019.

Budaya budaya gotong royong ini bangkit kembali di program pemberdayaan ini, karena dalam PAMSIMAS terdapat prinsip pendekatan pelaksanaan program, yakni berbasis masyarakat. Dimana, seluruh proses perencanaan PAMSIMAS seperti pemilihan kebutuhan air dan pelaksanaan kegiatan menyertakan partisipasi aktif masyarakat, tidak terkecuali kaum perempuan. Hal ini sebagai pengejawantahan atas pemenuhan kebutuhan masyarakat atas sarana air minum dan sanitasi, sehingga diharapkan sarana yang terbangun dipelihara dan dikelola oleh masyarakat untuk dikembangkan.

Masyarakat terlibat secara aktif dalam seluruh kegiatan PAMSIMAS mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pemanfaatan, termasuk besaran dana partisipasi masyarakat dalam pembiayaan program ini. Dari jumlah 100% pembiayaan (sekitar Rp 275 juta), 20% bersumber dari kontribusi masyarakat, senilai Rp 55 juta.

Di sinilah gotong royong itu ditumbuhkan. Karena dari nilai Rp 55 juta tersebut, yang berupa uang murni (in-cash) sebesar Rp 11 juta dan Rp 44 juta berupa bantuan tenaga kerja (in-kind). Kontribusi masyarakat dimaksudkan sebagai wujud dari komitmen 'sense of belonging' dan 'sense of responsibility' terhadap kegiatan maupun hasil kegiatan yang dilakukan masyarakat sendiri. Semakin besar kontribusi masyarakat semakin tinggi komitmennya untuk memiliki dan bertanggung jawab pada pelaksanaan kegiatan PAMSIMAS.

Dengan demikian dana bantuan PAMSIMAS pada hakekatnya merupakan stimulan dan penghargaan atas tumbuhnya kepedulian, prakarsa, inisiatif dan rasa memiliki dan bertanggungjawab masyarakat. Untuk itu, Dana BLM (bantuan langsung masyarakat) PAMSIMAS hanya dapat dicairkan apabila masyarakat telah merealisasikan swadaya, baik in-cash maupun in-kind.

Penyediaan tenaga kerja oleh masyarakat secara sukarela inilah, wujud penerapan budaya gotong royong, yang dulu sudah menjadi budaya nenek moyang kita. Gotong royong yang dilakukan meliputi penanaman pipa jaringan, pemasangan sambungan rumah (SR) sampai pada pembangunan bak penampungan air (resevoar). Yang tak kalah pentingnya, masyarakat pun harus rela menghibahkan sebagian tanahnya (minimal 5x5 m) untuk lokasi pengeboran sumur dalam dan resevoar (opsi sumur dalam).

Pasca program pun, masyarakat secara gotong royong membayar iuran air dan mengelola sarana terbangun yang terwadahi dalam BP SPAMS (Badan Pengelola Sarana Penyediaan Air Minum dan Sanitasi). Pengurus BP SPAMS pun bekerja secara suka rela. Kalau toh ada, sekadar uang lelah yang besarnya tidak lebih dari Rp 200 ribu/bulan.

Contoh kecil yang terjadi di BP SPAMS Tirto Makmur Abadi Kelurahan Bangetayu Kulon Kecamatan Genuk Kota Semarang. Pengurus yang berjumlah 13 orang, bekerja secara gotong royong untuk memperbesar kapasitas layanan kepada masyarakat secara suka rela. Karenanya, pada tahun 2012 memperoleh reward Hibah Insentif Desa (HID) dan tahun 2013 memperoleh Hibah Insentif Kota (HIK).

Dan sampai tahun ini oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan KB (Bapermasper & KB) Kota Semarang, BP SPAMS Tirto Makmur Abadi ditempatkan pada ranking I terbaik se Kota Semarang.

Semoga dengan pola dalam Program PAMSIMAS ini, nilai-nilai gotong royong yang mulai terkikis oleh arus global ini kembali tertanam dalam sanubari masyarakat Indonesia. Dirgahayu Negeriku, Dirgahayu Bangsaku

 


Tidak disertai video terkait.