top banner
  I  

PAMSIMAS dalam Perubahan PHBS

Artikel
Administrator |Sabtu - 26 September 2015 06:33:33 WIB | dibaca: 796 pembaca

PAMSIMAS dalam Perubahan PHBS

 

Oleh : Leo Sapto Adji Widodo, ST - Project Officer PAMSIMAS Jateng, Asisten Bina Teknik Satker Pengembangan Air Minum dan Sanitasi Provinsi Jawa Tengah Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Tengah

 

perubahan phbs 1Edukasi air dan sanitasi yang berkelanjutan, merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan agar generasi penerus memiliki kerangka berpikir yang baik terhadap sanitasi.

Program PAMSIMAS merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan universal akses air minum dan sanitasi tahun 2019, yang pelaksanaannya berbasis pemberdayaan masyarakat menuju perubahan perilaku dalam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Masalah air bersih dan sanitasi tampaknya masih merupakan problema bangsa, baik pemerintah atau masyarakat secara keseluruhan. Cakupan air minum dan sanitasi yang rendah sangat berdampak pada kesehatan masyarakat. Ini bisa dilihat dari hasil penelitian Jim Woodcock, seorang konsultan masalah air dan sanitasi dari bank dunia, yang hasilnya adalah 100.000 bayi di Indonesia tewas setiap tahunnya yang disebabkan oleh diare, penyakit yang paling mematikan nomor dua setelah infeksi saluran pernapasan akut. Penyebab utamanya, jelas buruknya akses terhadap air bersih serta sanitasi.

Untuk mengatasi keterbatasan akses air minum dan sanitasi tersebut perlu diupayakan pendekatan yang tepat bagi masyarakat, karena yang berproses adalah masyarakat. Ini dimaksudkan guna terjaminnya keberlangsungan sarana prasarana yang dibangun, maupun keberlanjutan pasca program. Karenanya, usaha pemerintah dan partisipasi masyarakat harus ditumbuhkembangkan seoptimal mungkin sehingga dicapai hasil yang paling efektif.

Program PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) merupakan salah satu kegiatan strategis untuk mencapai tujuan peningkatan derajat kesehatan, produktifitas kerja dan kualitas hidup, utamanya masyarakat berpenghasilan rendah. Peran aktif dan keterlibatan masyarakat menjadi modal efektif untuk mencapai keberhasilan program ini, khususnya di bidang kesehatan.

Karena dalam implementasinya PAMSIMAS mempunyai 5 komponen, yakni (1) pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan lokal, (2) peningkatan perilaku higienis dan pelayanan sanitasi, (3) penyediaan sarana air minum dan sanitasi umum, (4) insentif desa dan (5) dukungan implementasi dan manajemen program.

Dalam bidang kesehatan, pelaksanaan kegiatan pada program PAMSIMAS menggunakan pendekatan CLTS atau Community Lead Total Sanitation atau akrab disebut STBM (sanitasi total berbasis masyarakat). Strategi STBM merupakan strategi yang berfokus pada perubahan perilaku, penciptaan kebutuhan dan meningkatkan supply pasar untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang didukung dengan lingkungan yang kondusif baik dari aspek regulasi, penganggaran dan penerapan monitoring dan evaluasi secara berkala, dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Beberapa perilaku di bidang kesehatan, yang sampai saat ini masih terjadi adalah, masih adanya masyarakat yang buang air besar sembarangan (BABS), pembuangan tinja balita di tempat terbuka, cuci tangan yang belum benar dan kurang menjaga kualitas air dan penggunaan air aman dari pencemaran. Sehingga Menteri Kesehatan, melalui Surat Edaran No. 132 tahun 2013, menghimbau untuk meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap sanitasi dengan pemberdayaan melalui metoda pemicuan dan pemasaran sanitasi. Dan yang paling penting adanya pencapaian minimal satu desa /kelurahan terverifikasi Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) setiap tahunnya untuk setiap wilayah kerja Puskesmas.

Dan sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia dalam mencapai target Millenium Development Goals (MDGs), yaitu berkurangnya setengah jumlah penduduk yang tidak terlayani air minum dan sanitasi yang layak pada tahun 2015.

Pemerintah telah berupaya meningkatkan akses air minum, dimana terjadi peningkatan akses air minum sebesar 4,2% per tahun dalam periode 2011-2013, dengan capaian tersebut akses air minum pada akhir tahun 2013 menjadi sebesar 67,7%. Sehingga diharapkan pada tahun 2015 dapat mencapai bahkan melebihi target MDGs yaitu sebesar 68,8 %.

Namun demikian tantangan pemenuhan kebutuhan air minum dan sanitasi masyarakat masih sangat besar dengan adanya target pencapaian akses air minum dan sanitasi untuk 100% penduduk (universal access) pada tahun 2019. Sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangan Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, yang mengamanatkan terwujudnya 100% akses aman air minum, bebas kumuh, dan 100% akses sanitasi yang layak pada akhir tahun 2019.

Untuk mencapai tujuan bersama ini, akan tumbuh solidaritas sosial antar anggota masyarakat, akan tumbuh lagi jiwa gotong royong antar warga. Mereka akan bergotong royong membantu warga yang kurang mampu, yang lebih kaya akan membantu yang miskin. Dengan kepemimpinan lokal mereka akan mencari model-model sarana yang sederhana dan terjangkau oleh ekonomi mereka. Semua proses ini akan membutuhkan waktu, sehingga membutuhkan kesabaran dan upaya yang terus-menerus, walau proses berjalan lambat, tetapi jika semua masyarakat telah muncul kesadarannya, maka proses selanjutnya akan berjalan lebih cepat. Sehingga PHBS di masyarakat akan tercapai dengan nyaman.

Edukasi air dan sanitasi yang berkelanjutan, merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan agar generasi penerus memiliki kerangka berpikir yang baik terhadap sanitasi. Masalah air dan sanitasi tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor pekerjaan umum dan kesehatan, namun sektor pendidikan juga ikut bertanggung jawab terhadap kerangka pikir sanitasi. Karenanya, bukan tidak mungkin pendidikan air bersih dan sanitasi dijadikan kurikulum muatan local. Sehingga ke depan anak-anak mampu menjadi agen perubahan, yang dapat melakukan perubahan terhadap keadaan sanitasi di wilayahnya. Semoga


Tidak disertai video terkait.