top banner
  I  

Selasa - 05 April 2016 04:22:52 WIB

Di Balik Kocokan Arisan Ibu Ibu

Berita Terbaru
Administrator | dibaca: 50797 pembaca

Di Balik Kocokan Arisan Ibu-Ibu

 

Arisan jamban yang tetap jadi solusi alternative efektif.

 

dibalik kocokan 1Bangka - Kecamatan Bakam merupakan satu dari delapan Kecamatan di Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang memiliki luas wilayah 48,10 km2, jumlah penduduk 16.650 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk 34 Jiwa/km2. Tingkat kepadatan penduduk di Kecamatan Bakam merupakan tingkat kepadatan penduduk terendah di Kabupaten Bangka.

Desa Kapuk merupakan desa yang terletak diujung Kecamatan Bakam dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Bangka Barat.

Desa yang memiliki luas wilayah 27,30 km2 ini, sempat menjadi desa endemis diare dan malaria. Desa tersebut merupakan desa dengan cakupan jamban terendah di Kabupaten Bangka. Cakupan ini masih jauh di bawah target nasional yaitu 80%.

Strategi pemberdayaan masyarakat melalui CLTS bertujuan untuk mencapai status Stop Buang Air Besar Sembarangan. Metode CLTS ini, memunculkan inovasi arisan jamban sederhana oleh masyarakat.

Ditambah keberadaan sentra produksi sanitasi yang lokasinya memudahkan masyarakat membangun jamban. Sentra produksi ini menjual kloset dari semen dengan harga murah yaitu Rp 50 ribu dan slab (tempat mendudukan closet) seharga Rp 100 ribu sehingga dengan dana Rp 150 ribu masyarakat sudah dapat memiliki jamban. Memang ada sebagian masyarakat yang merasa berat mengeluarkan uang Rp 150 ribu.

Namun mengurangi beban tersebut, muncul ide dari para ibu-ibu yang sudah terbiasa arisan mengadakan arisan jamban sederhana. Gayung bersambut, ibu-ibu yang lain langsung membuat kelompok arisan, dimana per kelompoknya 20 orang dengan iuran yang sangat ringan yaitu Rp 15 ribu per orang per minggu. Pembayaran setiap Sabtu langsung dilanjutkan dengan kegiatan pembangunan jamban secara bergotong-royong.

Untuk pembangunan per jamban, membutuhkan slab seharga Rp 70 ribu, kloset Rp 50 ribu, semen ½ sak Rp 30 ribu , pasir dan penahan tanah dalam lobang, menggunakan bambu, kayu atau drum bekas tambang timah. Namun kesepakatan dari masyarakat, jika ada masyarakat yang tidak bersedia menggunakan slab dana, dibelikan semen dan kebutuhan lainnya untuk membuat dudukan kloset.

Setiap minggu arisan dikocok dan keluar dua nama per kelompok arisan. Jadi penambahan cakupan jamban sederhana di Desa Kapuk dari arisan sebanyak 6 buah jamban/minggu. Inisiatif ini diinisiasi oleh perempuan-perempuan Desa Kapuk, dimulai dari perencanaan dan pelaksanaan pembangunan jamban para perempuan ikut ambil bagian secara aktif. Hal ini terjadi karena para perempuanlah yang merasa dirugikan akibat perilaku BABS. Alasan lainnya karena kaum laki-laki sibuk bekerja mencari nafkah. Sumbangsih perempuan saat pembangunan jamban adalah dengan mencicil penggalian lubang untuk cubluk setiap harinya, sehingga saat pengocokan arisan pembangunan jamban sudah tidak terlalu berat lagi.

Masyarakat Desa Kapuk sudah mencapai SBS sejak 2011. Dan sampai saat ini mereka mampu mempertahankan bahkan membudayakan perilaku buang air besar di jamban. (Susilawati,S.KM, M.Kes & Korprov STBM Babel;Rita).


Tidak disertai video terkait.