top banner
  I  

Senin - 29 Agustus 2016 03:55:29 WIB

Antusiasme Suku Kubu Ikuti Pemicuan Stop BABS

Berita Terbaru
Administrator | dibaca: 50775 pembaca

Antusiasme Suku Kubu Ikuti Pemicuan Stop BABS

 

Kini Suku Anak Dalam (SAD)di Desa Dwi Karya Bhakti sudah mulai membiasakan diri buang air besar di kloset yang dibangun pemerintah berkat pemicuan. Bahkan SAD selalu minta dibuatkan sarana air bersih dan kloset kepada siapa saja yang datang berkunjung ke permukiman mereka.

 

antusias suku dalam 1Bungo - Suku Anak Dalam atau dikenal Suku Kubu yang terdapat di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi tidak semuanya beredar luas di hutan belantara. Sebagian kecil dari mereka sudah ada yang menetap di sekitar permukiman warga, meskipun belum bercampur baur dengan warga kebanyakan. Mereka yang menetap ini perlahan-lahan sudah memeluk agama dan kepercayaan tertentu. Beberapa anak mereka juga sudah ada yang bersekolah di sekolah meski hanya sampai sekolah dasar (SD).

Walaupun mereka sudah berbaur dengan masyarakat luas namun ciri fisik dan sifat mereka masih mudah dikenali khalayak ramai dan warga sekitar mudah membedakan antara warga kebanyakan dengan Suku Anak Dalam.

Di Desa Dwi Karya Bhakti, Kecamatan Pelepat yang merupakan salah satu desa penerima Program PAMSIMAS TA 2015 ada sekelompok SAD yang sudah menetap hampir 2 tahun lamanya. Mereka awalnya bermukim di pinggiran hutan yang dekat dengan pemukiman warga, mereka hidup dari berburu dan mencari hasil hutan untuk dijual. Melihat kondisi tempat tinggal mereka yang mempihatinkan, pemerintah daerah dan pusat yang diprakarsai LSM tertentu membangun hunian yang layak tinggal. Hasilnya, sudah 1 tahun ini SAD hidup berdampingan dengan masyarakat desa Dwi Karya Bhakti.

antusias suku dalam 2SAD di Desa Dwi Karya Bhakti ini bukanlah penerima manfaat ataupun terdampak dari Program PAMSIMAS. Hunian mereka yang jauh dari pemukiman membuat mereka tidak memperoleh manfaat dari bangunan sarana berupa kran umum. Keterbatasan biaya tidak memungkinan perpipaan dan sarana dibangun di lokasi yang jauh di atas bukit. Namun mereka dilibatkan pada saat pemicuan stop BABS (pemicuan CLTS) dan kampanye cuci tangan pakai sabun (CTPS).

SAD yang berjumlah kurang lebih 50 KK ini masih mempunyai kebiasaan buang air besar, sekaligus keperluan minum, mandi, cuci dan keperluan sehari-hari lainnya di sungai. Hal ini membuat mereka sering terserang diare dan penyakit kulit seperti scabies, kurap, kadas serta panu. Faskab STBM Kabupaten Bungo berkerja sama dengan Sanitarian Puskesmas dan Dinas Kesehatan melakukan kegiatan pemicuan Stop BABS yang dihadiri hampir seluruh SAD dewasa.

 Kegiatan pemicuan Stop BABS sangat menarik bagi SAD dan mereka sangat antusias mengikuti jalannya pemicuan. Mereka semangat menjawab pertanyaan � pertanyaan dari pemandu dengan saling berebut pengeras suara (microphone). SAD di Desa Dwi Karya Bhakti ini bisa dibilang sudah mulai melek ilmu pengetahuan, karena mereka sering didampingi oleh LSM yang notabene mulai membekali mereka dengan pengetahuan umum seperti masyarakat lokal setempat. Sejak saat itu faskab STBM  bersama sanitarian selalu memantau dan memonitoring perilaku BABS warga SAD tersebut. Tujuannya, untuk melihat sejauh mana pengaruh pemicuan yang telah di lakukan memberikan efek untuk gerakan perubahan perilaku BABS suku anak dalam. Pada dasarnya mereka yang telah dipicu mulai memahami bahwa buang air besar sembarangan dapat berakibat buruk terhadap kesehatan.

Pada kampanye cuci tangan pakai sabun di sekolah dasar yang merupakan agenda wajib yang dilakukan di tiap desa sasaran program PAMSIMAS, faskab STBM bersama sanitarian awalnya menemui kendala, terutama bagi anak-anak SAD. Mereka sulit paham dan lambat memahami materi yang diberikan dibandingkan dengan anak-anak lain non SAD.

antusias suku dalam 3Butuh cara khusus dan kesabaran tersendiri untuk menanganinya. Dan akhirnya mereka perlahan memahami. Mereka juga terlibat langsung kegiatan praktek cuci tangan pakai sabun di sekolah. Diharapkan,  kampanye CTPS ini, bisa memberi penyadaran dan peningkatan hidup sehat bagi anak-anak SAD dan lainnya, sehingga terbiasa melakukan cuci tangan pakai sabun sesuai anjuran program.

Anak-anak SAD yang biasanya terkesan kotor, mempunyai kuku panjang dan hitam, serta rambut tidak terurus, kini mulai berpenampilan rapi saat ke sekolah. Sang guru sekolah senantiasa menyemangati mereka untuk berperilaku hidup bersih dan sehat di rumah maupun di sekolah dengan tidak membedakan mereka dengan anak-anak lainnya dan tentunya tanpa diskriminatif

Faskab STBM turut mendorong dan berpesan kepada guru dan kepala sekolah agar selalu mengulang kampanye pentingnya cuci tangan pakai sabun, minimal 1 kali dalam seminggu pada saat upacara bendera agar anak-anak di Desa Dwi Karya Bhakti terbiasa melakukan cuci tangan pakai sabun.

Dengan dilibatkannya SAD pada saat pemicuan dan kampanye CTPS diharapkan juga dapat meningkatkan akses sanitasi di Desa Dwi Karya Bhakti. Ini untuk mengurangi penyebaran bibit penyakit kepada masyarakat, karena jumlah mereka akan semakin bertambah setiap tahunnya. SAD diharapkan dapat menjadi penggerak masyarakat lainnnya, baik bagi SAD maupun masyarakat lain yang jauh lebih maju dan mempunyai adat istiadat.

Kini SAD di Desa Dwi Karya Bhakti sudah mulai membiasakan diri buang air besar di kloset yang di bangun pemerintah berkat pemicuan. Bahkan SAD selalu minta dibuatkan sarana air bersih dan kloset kepada siapa saja yang datang berkunjung ke permukiman mereka. Mereka memang tidak mampu untuk membangun sarana air minum dan sanitasi secara swadaya di permukiman mereka, karena memang tidak memiliki banyak informasi dan pengetahuan untuk hal yang satu ini.  

Saat ini SAD jarang terlihat melakukan aktifitas di anak sungai sekitar permukiman mereka. Mereka juga berharap, nantinya akan ada kran umum yang di bangun di sekitar rumah mereka karena mereka beranggapan bahwa memutar kran kemudian mendapatkan air yang mengalir deras adalah sesuatu yang menakjubkan. (Hanifah - Faskab STBM Kab Bungo;Rita)


Tidak disertai video terkait.