top banner
  I  

Kamis - 21 Desember 2017 16:12:01 WIB

Perjuangan Desa Komba-Komba Mendapatkan Program PAMSIMAS

Berita Terbaru
Administrator | dibaca: 337 pembaca

Sulteng - Desa Komba-Komba terdapat di Kecamatan Bulagi Kabupaten Banggai Kepulauan Propinsi Sulawesi Tengah yang letaknya di atas gunung dengan ketinggian +150 meter dari permukaan air laut membuat masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Semenjak desa Komba-Komba berdiri pada tahun 1923 untuk mendapatkan air bersih masyarakat tergantung pada beberapa hal antara lain, pada musim penghujaan dimanfaatkan untuk mengambil air hujan dari kucuran air atap rumah masing-masing bila tidak masyarakat harus mengkonsumsi air sumur yang rasanya payau letaknya didataran rendah pinggir pantai jaraknya + 500 meter dari perkampungan penduduk.

Pada tahun 1933 musibah / malapetaka bagi masyarakat desa Komba-Komba yang terserang penyakit Diare dan Muntaber menyebabkan banyak terjadi kematian penyebab utamanya adalah belum adanya kesadaran masyarakat untuk BAB (Buang Air Besar) pada tempatnya serta masih mengkonsumsi air yang tidak layak untuk diminum. Dari kejadian tersebut masyarakat menyadari pentingnya air bersih untuk di konsumsi, sudah berulang kali mencoba dan terus mencoba menggali sumur untuk mendapatkan sumber air yang rasanya tidak Payau namun usaha itu sama sekali tidak membuahkan hasil, beberapa kali juga Kepala Desa dan Tokoh-Tokoh masyarakat menghadap dan mengajukan permohonan untuk mendapatkan bantuan Sumur Bor di Kabupaten Banggai yang waktu itu Kabupaten Banggai Kepulauan belum mekar namun Pemerintah hanya berjanji dan terus berjanji akan memberikan bantuan yang tak pernah kunjung datang.

Masyarakat desa Komba-Komba terus berupaya mencari alternatif lain, disamping terpaksa harus mengkonsumsi air sumur payau selain itu jaga mereka harus berjalan kaki naik turun gunung sejauh + 3 km yang kondisi jalanannya pun belum bisa dilalui kendaraan menuju sumber mata air yang letaknya di lembah gunung, namun kondisi sumber air tawar tersebut sebenarnya tidak layak untuk di konsumsi dikarenakan masih terbuka dan letaknya diantara akar-akar pepohonan dan banyak terdapat daun kering yang jatuh serta masuk kedalam sumber air tersebut, sehingga masyarakat yang mengkonsumsinya sering terkena penyakit Diare. Kemudian di tahun 2000 masyarakat desa Komba-Komba diberikan bantuan air bersih dari PPK (Proyek Pengembangan Kecamatan) yang membangun HU (Hidran Umum) sebanyak 10 unit namun tetap saja masyarakat sering mengalami diare karena sumber airnya masih tetap terbuka yang menyebabkan kotoran hewan dan manusia mudah masuk ke sumber air selain itu juga sebagian besar masyarakat masih melakukan BAB (Buang Air Besar) sembarang tempat.

Dan tepatnya pada tahun 2009 Kepala Desa Komba-Komba bertemu Team DMAC Pamsimas meminta bentuan agar desanya dapat diikut sertakan dalam Program Pamsimas. Alhamdulillah mulai dari proses Sosialisasi Tingkat Desa dan pengajuan Proposal serta bersedia menyanggupi berbagai syarat mutlak yang ada di Pamsimas sehingga pada tahun 2010 Program Bantuan Air Bersih dari Pamsimas masuk di desa Komba-Komba dengan menggunakan Sistem Pompanisasi. Masyarakat desa Komba-Komba sangat bersyukur karena Air Bersih dan Layak di Konsumsi sudah mereka nikmati serta penyakit Diare yang selama ini selalu menghantui sudah tidak ada lagi karena sumber airnya sudah di buatkan PMA (Penangkap Mata Air) yang tertutup dan Reservoir serta masyarakat sudah menikmati SR (Sambungan Rumah) tanpa meteran, begitu pula dengan perilaku masyarakat yang BABS (Buang Air Besar Sembarangan) perlahan-lahan sudah mulai menyadarinya arti pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat. Sehingga pada tahun 2015 desa Komba-Komba kembali mendapatkan HID (Hibah Intensif Desa) dari Pamsimas dengan demikian penambahan akses jaringan perpipaan sudah terlayani secara keseluruhan akhirnya desa Komba-Komba sekarang sudah 100% SBS (Stop Buang Air Besar Sembarangan).

Namun demikian masih terjadi kecemburuan sosial dimana pemakaian air dengan sistem bergilir dan tanpa meteran air serta pembayaran yang sama yaitu Rp. 15.000,- per bulan dianggap belum maksimal dikarenakan ada masyarakat yang memiliki bak penampung air hanya berukuran kecil ada juga yang berukuran besar, sehingga untuk mengatasi hal tersebut diatas pada tahun 2017 desa Komba-Komba mendapatkan bantuan HAMP (Hibah Air Minum Pedesaan) disinilah keadilan pemakaian air terjadi dan terlaksana dengan benar serta tegas karena seluruh rumah masyarakat sudah memiliki Meteran Air. (Syamsul Bahri, SE. – CoDC; Henok Kaloke – Ketua BP-SPAMS;Deddy S-Asst.MIS/Web Admin CMAC)


Tidak disertai video terkait.