top banner
  I  

Selasa - 31 Agustus 2010 07:13:58 WIB

Di Atas Rawa Kami Menjalani Kehidupan

Best Practice
Administrator | dibaca: 50786 pembaca
Di Desa Pondok Babaris Kabupaten Hulu Sungai Utara– Provinsi Kalimantan Selatan, semua kegiatan berlangsung di atas rawa, karena seluruh pemukiman desa ini berdiri di atas rawa. Ada 175 Kepala Keluarga dengan 750 Jiwa yang mendiami desa ini, yang terbagi dalam 4 RT.

kalsel_lg1Mata pencarian utamanya adalah berternak itik dan mencari ikan, dan ketika musim kemarau datang, waktu rawa menyusut, di saat itulah mereka bercocok tanam terutama padi dan sayur-sayuran.

Setiap peternak rata-rata memiliki 200-500 ekor itik petelur. Masa itik/bebek memproduksi telur paling efektif berkisar satu tahun, setelah itu biasanya sang itik yang lama akan berakhir di Rumah Makan Itik tanpa tulang, yang banyak terdapat di sepanjang jalan utama Kota Amuntai. Itik yang sudah tua itu akan berganti dengan itik baru yang masih produktif.

Air memang banyak, bahkan ada dimana-mana, tapi untuk air bersih cukup sulit karena air rawa yang ada tidak layak untuk di konsumsi, kadar keasamannya tinggi dan warnanya tidak jernih. Kondisinya akan semakin buruk pada saat musim kemarau, apalagi hal ini makin diperparah oleh perilaku masyarakat yang sudah turun temurun dengna melakukan kegiatan rumah tangga di rawa, dari mulai mandi, mencuci bahkan buang air besar sembarangan (BABS) , kotoran ternak dan lainnya.

kalsel_lg2Berbicara tentang toilet yang memenuhi standar kesehatan, pada awalnya cuma ada 1 di tempat ini, milik bapak kepala desa. Tapi sejak pemicuan CLTS saat ini terbangun 6 toilet baru hasil kesadaran dan swadaya dari masyarakat sendiri.

Masih sangat jauh dari jumlah perbandingan jiwa, untuk itu maka pendampingan dari fasilitator dan DMAC harus terus ada dan berkesinambungan, juga peran dari masing-masing Natural Leader yang sudah terbentuk, ke depannya di harapkan jumlah toilet akan semakin banyak seiring tumbuhnya kesadaran dari masyarakat dengan adanya pelatihan dan promosi kesehatan yang sudah dilakukan.

Untuk membangun toilet yang memenuhi syarat kesehatan di kondisi desa seperti ini memang cukup mahal bisa mencapai hingga Rp 2,5 juta dan itu untuk sebagian besar masyarakat Pondok Babaris masih masuk kategori miskin hal ini cukup memberatkan.

Tahun 2009 desa ini membangun 32 pompa tangan untuk mencukupi kebutuhan seluruh warga yang ada. Masing-masing pompa melayani 5 – 6 KK, sehingga keperluan seluruh air bersih warga Desa Pondok Babaris, terpenuhi dari sumur pompa bor yang sudah di bangun.

Desa Pondok Babaris adalah desa unik yang cantik, dengan kehidupan eksotis dari masyarakat yang hidup di dalamnya. Cuacanya pun ikutan unik karena bila pagi hari kita langsung berjumpa suasana dingin menggigil dengan kabut menyelimuti seluruh desa. Beranjak siang hari, teriknya mentari menyengat seakan menembus kulit kita. Memasuki sore menjelang malam, langitpun terlihat cantik dengan semburat lembayung berwarna jingga mengiringi terbenamnya matahari. Hingga malam pun tiba dengan taburan bintang-bintang di langit. (Arief Ridwan - HH DMAC Kab. Hulu Sungai Utara;Rita)
 

Tidak disertai video terkait.