top banner
  I  

Jum'at - 12 Maret 2010 02:51:27 WIB

Pak Beddu Sudah Tidak Memikul Air Lagi

Best Practice
Administrator | dibaca: 50763 pembaca

“Sulitnya mengambil air . Jangankan untuk mandi, untuk minum saja sulit sangat. Mana usia sudah renta,“ keluh Pak Beddu, warga Desa Lapaukke Kec. Pammana Kab. Wajo, Sulawesi Selatan.

Ketersedian air bersih memang sudah cukup lama diidam-idamkan oleh warga Desa Lapaukke yang sebagian besar mata pencariannya adalah petani. Karena di desa ini kalau musim kemarau sangat gersang dan cuma ada satu sumur yang ada airnya, itupun jaraknya 800 meter dari desa.

Bagi penduduk Desa Lapukke, jangankan untuk mencuci, untuk mandi saja mereka harus membeli air sebanyak 1 jerigen yang harganya lima ribu rupiah. Kalaupun mengambil air di sumur yang sejauh hampir satu kilometer itu, harus mengantri selama 2 sampai 3 jam untuk mendapatkan 2 ember saja.

“Masussa ladde mala wae, kopurani malempa wae mapuse siki lettu dibolae (sulit mengambil air, kalau sudah memikul air keringat lagi),” kata Pak Beddu, salah satu warga Desa Lapaukke sambil tersenyum miris.

ks 1Terkadang mereka menunggu mulai pagi hingga sore menjelang, demi seember air untuk air minum, itupun airnya tidak bisa langsung dimasak, harus didiamkan dahulu selama satu hari satu malam agar airnya mengendap.   

Kepala Desa Lapaukke mengaku sudah sering mengusulkan kepada Pemerintah Daerah Kab. Wajo masalah air bersih ini. Nah ketika program Pamsimas hadir di desanya, dia menyambutnya dengan penuh antusias. Begitu juga dengan warga desa terutama Pak Beddu.

Tidak heran ketika sosialisasi, warga begitu antusias menghadiri pertemuan tersebut. Mereka menyampaikan semua uneg-uneg mereka selama ini yaitu sulit mendapatkan air bersih yang layak konsumsi. Karena ini merupakan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi pertama yang mereka terima, maka langsung memprioritaskan air bersih sebagai prioritas utama ketika pengajuan usulan.

Keseriusan warga terlihat dalam mengumpulkan dana in-cash dan in-kind serta bergotong royong dalam membangun sarana air minum. Seperti membuat reservoir dan mengali tanah untuk pemasangan pipa.

Kegembiraan menyeruak di hati para warga Desa Lapaukke dengan mengalirnya air dari hidran umum dan kran di depan rumah mereka. Sehingga kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga seperti mandi, mencuci dan memasak tidak menggunakan air sumur yang jauh itu. Air yang dihasilkan dari Program Pamsimas ini warnanya jernih, tidak berbau dan tidak berasa, dari segi kesehatan pun terjamin.

 

ks 02“Marennu manengki nataro PAMSIMAS dena gaga sussa mala wae maputara kran bawangki ri olo bolae magello topa waena, dena u mapuse mallempa wae (kita semua gembira karena Pamsimas kini tidak sulit lagi mendapatkan air bersih tinggal putar kran di depan rumah tidak berkeringat lagi memikul air),” tutur Pak Beddu dengan gembira.

 

Begitu juga dengan masalah sanitasi warga desa terpicu membangun jamban setelah mengikuti pemicuan CLTS. Bahkan setelah diadakan penyuluhan tentang Prilaku Hidup Sehat di Masyarakat, mereka terpicu untuk melakukan pola hidup sehat seperti BAB di tempat yang terfokus dengan membangun jamban keluarga.

Anak-anak mereka pun tak luput diberikan pendidikan dini mengenai masalah kesehatan di tingkat Sekolah Dasar seperti adanya sarana cuci tangan, jamban sekolah. Penyuluhan PHBS sekolah ini diharapkan ketika mereka kembali ke rumah masing-masing, mereka menerapkan apa yang mereka dapatkan di sekolah.

Program Pamsimas telah menjadi bukti nyata dari harapan sebagian masyarakat Indonesia salah satunya di Desa Lapaukke yang membutuhkan Air Layak Minum (Layak Konsumsi). Namun yang menjadi catatan kami adalah yaitu masalah Sanitasi (BAB di tempat terfokus ). Mudah-mudahan setelah ini Dinas Kesehatan utamanya Sanitarian PUSKESMAS selalu mengontrol hasil pemicuan CLTS yang mereka lakukan bersama fasilitator masyarakat agar BAB (di tempat terfokus) masyarakat tidak mengalami istilah pasang surut.

(Tim DMAC Kab Wajo; Rita )




Tidak disertai video terkait.