top banner
  I  

Kamis - 03 Mei 2018 10:27:15 WIB

Srikandi Sustainability From Jailolo

Best Practice
Administrator | dibaca: 239 pembaca

Jailolo, Halmahera Barat - “Ngoi ne rasa kangela ua urus palanggan banyo Pamsimas yang penting momoin sanang.”  Itulah kalimat yang terucap dari Katerina Sungi, ibu paruh baya yang dipercaya menjabat sebagai bendahara BP-SPAMS “Banyolara” Desa Gamtala saat kami bertatap muka di sekretariatnya beberapa waktu lalu.  Ungkapan tersebut kalau diartikan dalam bahasa Indonesia “Saya tidak pernah lelah mengurus pelanggan air Pamsimas yang penting mereka semua senang”.

Desa Gamtala merupakan desa sasaran Pamsimas tahun 2010 yang secara administratif masuk wilayah Kec. Jailolo Kab. Halmahera Barat dengan jumlah penduduk 185 KK 697 Jiwa. Desa ini berjarak lebih kurang 7 Km dari Ibu kota Kabupaten (Jailolo). Sejak Pamsimas masuk ke Desa Gamtala hingga saat ini, permasalahan Air Minum tidak lagi menjadi permasalahan utama bagi masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan masih difungsikannya semua sarana yang dibangun masyarakat dan masih tetap terawatt dan terpelihara dengan baik. Disamping itu Badan Pengelola juga telah menerapkan sistim pembayaran iuran dengan mengacu pada bacaan pada water meter yang terpasang di setiap rumah pelanggan. Begitu juga halnya dengan sanitasi, sejak air tidak lagi menjadi suatu permasalahan, maka permasalahan sanitasi juga dapat teratasi dengan baik.  Pengelola maupun sebagian besar masyarakat desa  beranggapan bahwa dua hal tersebut tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lainnya.

 Tong usaha pol untuk urusan Sanitasi tapi kalo air trada sama juga foya Bapa,” celetuk salah satu warga di sela-sela dialog dengan masyarakat Gamtala saat kunjungan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten ke desa tersebut beberapa waktu yang lalu.

Memang tidak semanis yang dibayangkan dan tidak semudah yang dipikirkan untuk menjaga sekaligus menjamin kesinambungan fungsi dari berbagai sarana yang dibangun di Desa Gamtala khususnya sarana yang dibangun melalui Program Pamsimas tahun 2010.   Itu semua membutuhkan komitmen dan integritas yang kuat dari masyarakat terutama dari para Pengurus Badan Pengelola (BPSPAMS). Dengan didukung oleh berbagai pihak, tokoh masyarakat, tokoh agama termasuk perangkat desa dalam hal ini Kepala Desa, para pengurus proaktif tidak mengenal lelah bekerja tanpa pamrih melayani masyarakat dalam hal urusan air minum. Salah satu pengurus yang super aktif dalam kepengurusan BPSPAMS Gamtala adalah ibu Katerina Sungi yang menjabat sebagai bendahara. Berbagai kendala dalam melayani air minum masyarakat sering ditemui seiring berjalannya waktu dan berbagai upaya juga dipikirkan agar segala permasalahan teratasi demi kesinambungan kebutuhan masyarakat yakni air minum.

Dalam mengatasi berbagai kendala tersebut salah satu upaya yang telah dilakukan ibu Katerina diantaranya melakukan penggantian pompa yang rusak dan pada saat itu membutuhkan dana sebesar Rp 15.000.000,- sementara kondisi kas BP-SPAMS saat itu dalam keadaan defisit karena belum diterapkannya iuruan berbasis water meter. Beliau berpikir jika pompa tidak segera diperbaiki, maka semua masyarakat desa akan kesusahan untuk mendapatkan air kebutuhan sehari-hari.  Melihat kondisi demikian, atas persetujuan Ketua Badan Pengelola ibu Katherina mengambil inisiatif untuk meminjam dana kas Gereja sebesar Rp 15.000.000,- dengan sistim pengembalian dicicil selama 12 bulan dengan bunga seikhlasnya. Tidak berhenti sampai disitu saja, untuk lebih meningkatkan pelayanan air minum, beliau secara rutin koordinasi ke berbagai pihak untuk mencari terobosan-terobosan guna mengantisipasi permasalahan yang terjadi termasuk tunggakan-tunggakan pembayaran dari pelanggan yang bisa mengakibatkan terganggunya operasional pelayanan SAM. Beliau juga tidak sungkan koordinasi dengan Kepala Desa jika terjadi permasalahan dalam hal pelayanan air minum di desa, salah satunya adalah tunggakan dari pelanggan. Sambutan dari Kepala Desa cukup bagus terkait hal tersebut.

Tra bisa begitu ibu, karna dorang so pake air jadi dong harus iko aturan yang torang so bekeng. Kalau dong nunggak tarus kase putus saja….tong yang tanggungjawab,” pungkas Ruben Kalengit, Kepala Desa Gamtala dengan nada kesal.  Tidak hanya sampai sebatas itu saja dukungan yang diberikan Kepala Desa. Berkat negosiasi pengurus BP-SPAMS yang diprakarsai oleh ibu Katherina Sungi, pihak desa telah memberikan bantuan 3 (tiga) unit pompa ke Badan Pengelola untuk lebih meningkatkan pelayanan air minum yang bersumber dari Alokasi Dana Desa (ADD). Dan direncanakan juga akan menambah bantuan-bantuan lain guna perawatan/penambahan pengamanan SAM

Hingga saat ini pelayanan sambungan rumah di Desa Gamtala telah mencapai 154 rumah dari jumlah penduduk yang memanfaatkan SAM di desa sebanyak 185 KK karena dalam beberapa rumah terdapat 2 – 3 KK. Tidak menutup kemungkinan akan bertambah dari jumlah tersebut akibat adanya pendatang dari desa lain. Untuk setiap pelanggan yang akan menyambung baru dikenakan biaya sebesar Rp 400.000,-/SR.

Keberhasilan Pamsimas di Desa Gamtala tidak terlepas dari dukungan semua pihak dan secara internal tidak terlepas dari kerja keras dan peran seorang Srikandi pengawal keberlanjutan Desa Gamtala ibu Katerina Sungi,” pungkas Sadik Umasangaji anggota Pakem dari Dinas Kesehatan Halmahera Barat.  “Batul itu Bapa,” sambung Ketua BP-SPAMS Gamtala, Reynol Frangko menimpali (Alwi Yudin-PC ROMS 17 Maluku Utara/ Hartono Karyatin-Advocacy & Media Sp. NMC)


Tidak disertai video terkait.