top banner
  I  

Selasa - 28 Juni 2011 03:45:23 WIB

Mimpi Sempurna Masyarakat Desa Pagentan

Best Practice
Administrator | dibaca: 50872 pembaca

Berawal dari mimpi merubah perilaku hidup bersih dan sehat warganya, kini sang Kepala Desa Pagentan, Achmad Salabi patut berbangga, mimpinya menjadi kenyataan. Warganya tidak lagi buang air besar sembarangan. Di jamban yang sehat mereka merubah perilakunya dalam kebiasaan BAB

odf bjngrBanjarnegara – Semua orang punya hak untuk bermimpi, karena berawal dari mimpi, kenyataan bisa terjadi. Inilah yang dialami Kepala Desa Pagentan, Achmad Salabi. Ia bermimpi merubah perilaku warganya yang semula mempunyai kebiasaan Buang Air Besar (BAB) di sembarang tempat, menjadi BAB di jamban sehat.

Desa Pagentan, Kecamatan Pagentan, terletak 30 Km ke arah utara dari Ibukota Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Untuk menuju desa ini, kita dapat menempuh jalan darat yang berliku-liku dengan waktu tempuh selama satu jam. Desa yang berada di dataran tinggi ini memiliki luas wilayah 369.605 ha, yang terdiri dari 5 Dusun yaitu: Dusun Bulu, Sawangan, Tedunan, Kranjan I dan Krajan II , terdiri dari 8 RW dan 25 RT.

Jumlah penduduk Desa Pagentan yang mendapat program PAMSIMAS tahun 2010 ini, sebanyak 5.069 jiwa dengan jumlah KK sebanyak 1.132 KK. Mayoritas mata pencaharian penduduk ini adalah sebagai petani dan buruh tani.

odf bjngr aodf bjngr bSebelum dilaksanakan pemicuan CLTS di desa ini, 97% masyarakat Desa Buang Air Besar (BAB) di sembarang tempat. Mereka memilih kolam ikan dan jamban yang ada, yang belum dilengkapi dengan septitank. Tetapi pada umumnya langsung dibuang ke kolam ikan atau ke sungai yang kemudian menjadi pakan ikan. Hal ini karena masih banyak warga yang belum mengerti bahwa BAB sembarang tempat itu bisa menimbulkan penyakit.

Sebelum melakukan pemicuan fasilitator berkoordinasi dengan camat, sanitarian, bidan desa, kepala desa, ketua PKK desa, kader kesehatan dan kepala dusun. Dalam berkoordinasi dengan kepala dusun didata kembali akses masyarakat terhadap sanitasi. Hasil koordinasi maka disepakati tentang waktu pemicuan.

odf bjngr cPelaksanaan pemicuan CLTS, langsung dilaksanakan oleh kepala desa, sanitarian, kader kesehatan yang difasilitasi oleh fasilitator dan dibantu oleh natural leader. Kemudian sepakati tentang percepatan pelaksanaan stop BABs dengan pengadaan poster, baliho dan stiker; stiker ini juga berfungsi sebagai alat monitoring.

Demikian juga dalam monitoring, secara operasional dilaksanakan oleh kepala dusun, natural leader dan kader kesehatan dibantu oleh unsur terkait dan DMAC.

Selama 6 bulan setelah dilakukan pemicuan/Community Led Total Sanitation (CLTS), Desa Pagentan terjadi peningkatan jumlah masyarakat yang buang air besar pada tempatnya atau telah stop buang air besar di sembarang tempat. Bahkan peningkatan ini tidak hanya akses melainkan pada jumlah sarana /kepemilikan jamban yang dimiliki masyarakatnya. Kini dari dua dusun yang mendapat pelayanan air bersih, masyarakatnya sudah 100% tidak lagi Buang Air Besar (BAB) di sembarang tempat.

odf bjngr dYaitu Dusun Tedunan dan Dusun Sawangan. Yang menariknya dari Desa Pagentan ini, jamban yang terbangun berwujud langsung ke jamban improve, kepemilikan oleh keluarga, dan septictank dibangun dengan lahan yang sangat terbatas.

Ibu Siti Aminah, salah satu warga yang juga merupakan Ketua Tim Penggerak PKK Desa Pagentan, sekaligus kader kesehatan dan natural leader, mengatakan, sebelum adanya Program PAMSIMAS, di Desa Pagentan masih sangat prihatin. Sebagian besar masyarakat termasuk dirinya, walaupun buang air besar di jamban rumah, tetapi buangan akhir tinja masih ke kolam, hal ini sama saja masih buang air besar di sembarang tempat. Namun kini ia boleh berlega hati karena sudah ada fasilitas BAB yang layak dan sehat.

Pak Kades Achmad Salabi, sebelumnya memang merasa malu warganya masih buang air besar sembarang tempat. Masih banyak warganya walaupun sudah mempunyai jamban di rumah tetapi belum ada septictank. Karena itu ia pun langsung tergugah untuk membangun septictank dan bertekad untuk merubah perilaku warga di Desa Pagentan untuk berubah dari yang dulunya BAB di sembarang tempat menjadi BAB di jamban improve dan milik sendiri.

Ia mengaku mengaku sebelumnya, selama mengikuti pelatihan CLTS merasa tidak tertarik bahkan merasa pesimis terhadap program PAMSIMAS. Namun seiring pelatihan berlangsung, membuat dirinya berpikir dan merenung untuk apa ia di sini.

odf bjngr e“Saya mulai tertarik dan satu hari tergerak dalam pikiran bahwa saya harus memulai untuk masyarakat desa saya, dan sebagai titipan bagi anak cucu, ” ungkapnya

Dimulai dari lingkungan keluarga sendiri, Achmad Salabi membuat jamban dengan mempersiapkan material. Awal perjuangan menggerakan warganya ini juga tidak lepas dari segala hambatan. Seperti sulitnya mencari waktu tepat untuk mengumpulkan masyarakat, belum lagi kondisi cuaca yang kadang tidak mendukung, perilaku sebagai pakan ikan dan lahan yang sangat terbatas.

Kondisi ini membuat Achmad Salabi semakin tertantang dalam menyadarkan warganya. Akhirnya mimpi diiringi dengan tekad dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Hasil kerja keras antar semua pihak termasuk Sanitarian Puskesmas, LKM PAMSIMAS TIRTA, PKK, bidan desa, natural leader dan Tim Fasilitator Masyarakat serta dukungan dari tokoh formal dan informal. Walaupun sudah dua dusun yang sudah SBS (Stop Buang Air Besar Sembarangan), namun pemicuan juga dilaksanakan ditiga dusun lainnya, sehingga cakupan kepemilikan jamban di desa telah mencapai 60%.

Pada 16 Juni 2011 kemarin, Desa Pagentan dijadikan sebagai desa percontohan perubahan perilaku SBS yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan dan Tim Konsultan PAMSIMAS Pusat dengan didampingi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara, PMAC khususnya bidang HHS, DMAC tiga (3) bidang yaitu HHS, WSS dan CD serta Tim fasilitator masyarakat (HHS, WSS dan CD).

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari Desa Pagentan, demi mewujudkan perilaku hidup bersih dan sehat. Seperti cerita janda mbok Sumarto yang membuat jamban dengah hasil menjual 3 ekor ayam miliknya dan mbok Sihat yang membuat jamban dengan menggali tanah tanpa bantuan tukang gali. Lain lagi dengan Pak Saher, yang sewaktu mengikuti kegiatan CLTS, ia dengan sukarela dan tanpa jijik mengambil tinja langsung dengan tangannya.

odf bjngr fPak Kades pun meminta untuk memonitoring kepemilikan jamban tiap rumah secara acak di semua dusun. Monitoring dilaksanakan dengan cara yang unik, dari berjalan kaki kunjungan rumah ke rumah, Pak Kades juga menyediakan mobil bak terbuka dan mobil patroli polisi. Ini dimaksudkan untuk memberikan apresiasi kepada warga yang sudah mempunyai jamban dan memicu warga yang belum tergerak untuk membangun jamban.

Apa yang dulu hanya sebuah mimpi akhirnya menjadi kenyataan, keinginan Kepala Desa Pagentan merubah perilaku warganya untuk menuju masyarakat yang sadar akan jamban terwujud sudah. Bahkan Pak Kades menargetkan Deklarasi SBS setelah lebaran dan berkeinginan deklarasi Desa Stop Buang Air Besar Sembarangan ini dihadiri Menteri Kesehatan, Kepala Daerah, Bank Dunia, para Camat dan Kepala Desa di Banjarnegara, dan keinginan tersebut menjadi kenyataan. Sebuah mimpi yang sempurna. (Alfa HHS dan Miswanto WSS DMAC Kab. Banjarnegara;Rita)

 


Tidak disertai video terkait.