top banner
  I  

Rabu - 09 Mei 2018 10:44:18 WIB

Studi Banding BP-SPAM Kab. Majene di Desa Munduk Temu

Berita Terbaru
Administrator | dibaca: 440 pembaca

Mengkeramatkan pohon adalah kearifan warisan  leluhur kami di Bali. Tujuannya adalah untuk melindungi agar pohon tidak ditebang sembarangan, karena pohon telah memberi penghidupan,…A I R”

 

Tabanan, Bali - Selain mempertahankan keberadaan pohon yang sudah ada, masyarakat Desa Munduk Temu juga menanam albasia, pohon-pohon yang menghasilkan buah seperti durian, serta bambu sebagai pohon pelindung disekitar mata air. Tanaman bambu dipilih karena banyak dibutuhkan untuk kepentingan upacara oleh masyarakat. “Bahkan kelompok masyarakat sudah bisa mendapat penghasilan tambahan dengan melakukan pembibitan disekitar mata air, yang kemudian dijual ke Dinas Perkebunan untuk ditanam oleh masyarakat”.

Pernyataan ini disampaikan oleh I Nyoman Wintara, Perbekel Desa Munduk Temu Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan ketika menerima kunjungan belajar dari Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat, Kamis, 3 Mei 2018. Rombongan terdiri dari Kepala Desa dan Pengelola SPAM dari 40 desa di Kabupaten Majene, Kepala dan Staf Bapeda, Dinas Kesehatan, Dinas PMD serta Ketua Tim Penggerak PKK dipimpin langsung oleh Bupati Majene, Dr. H. Fahmi Massiara, M.H. Rombongan diterima di Balai Desa Pakraman Sanggrahaning Wiguna Desa Pakraman Munduk Temu oleh Perbekel/Kepala Desa dan masyarakat desa  Munduk Temu, Kepala Bidang Infrastruktur Prasarana Wilayah Bappedalitbang dan Camat Pupuan mewakili pemerintah Kabupaten Tabanan. Hadir dalam kunjungan tersebut PC ROMS 15  Sulawesi Barat, DC Kabupaten Majene, serta PC ROMS 10 Bali dan DC Kabupaten Tabanan.

Dalam pengantarnya, Bupati Majene menyampaikan tujuan studi banding ini adalah selain  ingin mengetahui sistem pengelolaan sarana air minum, juga ingin mengetahui peran perempuan dalam pengelolaan sarana serta dampak ekonomi dengan adanya air minum. di Desa Munduk Temu.

Tidak mengambil keuntungan dari masyarakat, terlebih dari air yang diminum masyarakat adalah prinsip, sehingga pengelolaan air minum tidak menjadi bagian dari BUMDes di desa Munduk Temu.” kata Nyoman Wintara. Agar sarana yang dibangun terjamin keberlanjutannya, pengelolaannya di masing-masing banjar dilakukan oleh Kelompok Pengelola Sarana Air Minum yang tugasnya mengelola, menjaga keberfungsian dan  keberlanjutan SPAM. Tarif air minum yang harus dibayarkan warga ditetapkan bersama melalui musyawarah antara pengelola kelompok dengan masyarakat pengguna dengan mempertimbangkan biaya operasional, gaji pengelola dan biaya perbaikan serta dana simpanan untuk kebutuhan insidental. Tarif di masing-masing banjar berbeda satu dengan yang lainnya. Kelompok-kelompok pengelola sarana tidak berada langsung dibawah pemerintahan desa, namun pemerintahan desa tetap melakukan pengawasan untuk memastikan bahwa pengelolaan air minum dapat berjalan dengan baik dan lancar serta memenuhi unsur 4K.

Lebih lanjut, Nyoman Wintara menjelaskan bahwa perempuan di Desa Munduk Temu terlibat aktif sejak tahapan perencanaan, pembangunan SPAM sampai dengan pemeliharaan dan pengelolaan SPAM. Pada tahap pembangunan, perempuan tidak segan untuk membantu membawa material bangunan seperti semen, pasir, dan pipa ke sumber mata air yang letaknya berada dibawah permukiman dengan jarak kurang lebih 500 - 1500 meter. Untuk pemeliharaan SPAM, perempuan ikut terlibat dalam membersihkan sarana, bahkan mengecat reservoar. Perempuan juga terlibat aktif dalam kepengurusan KPSPAM.

Sambil mempersilahkan rombongan menikmati kopi yang disuguhkan, Nyoman Wintara menjelaskan bahwa kopi yang disuguhkan merupakan salah satu dampak dari adanya air minum di Desa Munduk Temu. Sebelum adanya air minum, masyarakat menjual hasil panen kopi mereka ke tengkulak. Namun setelah adanya air minum, pemerintah desa mendorong masyarakat untuk mengolah kopi mereka dengan standar kualitas yang ditetapkan. Hasil pengolahan kopi dibeli oleh BUMDes, dikemas dan di-branded dengan nama LEAK BALI. Nama LEAK selain ingin menonjolkan kesan mistis Bali, juga merupakan singkatan dari Lebih Enak, Anda Ketagihan. Kopi LEAK BALI saat ini sudah mulai dipasarkan di luar negeri.

Selain dampak ekonomi, masyarakat desa juga lebih sehat dan lebih produktif. Tersedianya air minum memicu lahirnya Gerakan Satu Bersih yaitu tanggal 1 setiap bulannya masyarakat melakukan gotong royong untuk membersihkan lingkungan desa. Masyarakat desa Munduk Temu juga memiliki jargon ‘LISA’ yang merupakan singkatan dari Lihat Sampah, Ambil. Gerakan ini didukung oleh 3 desa pakraman yang ada di Munduk Temu. Warga yang tertangkap basah membuang sampah sembarangan akan dikenakan denda Rp250.000,- Uang denda tersebut 50% akan menjadi kas desa pakraman, dan 50% lainnya akan diberikan kepada warga yang menemukan dan melaporkan pelanggaran.

Mengakhiri kunjungan di desa Munduk Temu, rombongan dari Kabupaten Majene mengunjungi kios BUMDes untuk melihat proses pengemasan dan pemasaran kopi. Sesaat setelah rombongan meninggalkan desa Munduk Temu, sekelompok anak-anak yang baru selesai berlatih menari di Balai Desa dan berjalan pulang menuju rumah masing-masing, tanpa canggung memunguti sampah yang ditemukan dan membuangnya ke tempat sampah. [Mike Sedana-Co.DC Tabanan, Purnama Sidhi-LGS ROMS 10 BALI;Deddy S-WDA NMC]


Tidak disertai video terkait.