top banner
  I  

Kamis - 03 Januari 2013 09:00:00 WIB

Akses Air Bersih Membangkitkan Pembangunan Ekonomi

Best Practice
Administrator | dibaca: 51001 pembaca
Masyarakat yang mandiri adalah masyarakat yang dapat mewujudkan harapannya dan mengaktulisasikan kemampuan diri dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka peningkatan kualitas hidup.

Ketimpangan kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat yang masih ada selama ini mengkibatkan terjadinya kesenjangan dalam berbagai aspek kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
 
Pemberdayaan masyarakat merupakan proses siklus terus menerus, yang mengutamakan proses partisipatif. Pemberdayaan masyarakat lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan produk/hasil yang bersifat praktis.
 
Nah salah satu Program Nasional yaitu Penyediaan Air minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) dari Kementerian Pekerjaan Umum bersama lintas kementerian merupakan program yang bertujuan meningkatkan akses air minum dan sanitasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah di perdesaan dan pinggiran kota (peri-urban) yang dilaksanakan melalui pemberdayaan masyarakat.
 
Tidak dipungkiri memang, air merupakan sumber kehidupan, sanitasi adalah martabat dan keduanya mendukung tercapainya kesehatan lingkungan yang pada akhirnya turut memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat termasuk peningkatan ekonomi mereka.
 
Direktur Pengembangan Air Minum Ditjen Cipta Karya, Danny Sutjiono, mengatakan, keberhasilan dari program Pamsimas ini, tidak hanya berhenti pada keberhasilannya dalam pengelolaan layanan air minum dan sanitasi saja. Namun program ini berhasil meningkatkan perekonomian yang otomatis meningkatkan kesejahteraan mereka.
 
Program pemberdayaan ini telah mampu menggerakan perekonomian masyarakat dan kesejahteraan masyarakat di perdesaan. Ini menunjukkan program PAMSIMAS merupakan program penyediaan air minum dan sanitasi di daerah yang mempunyai nilai strategis, ungkap Danny Sutjiono.
 
berita03012013-1Kemudahan masyarakat mengakses air minum, berdampak langsung pada sisi ekonomi masyarakatnya. Seiring kemudahan masyarakat mengakses air minum, memunculkan inisiatif masyarakat untuk membuka usaha.
 
Keberhasilan ini dapat kita lihat di Tanah Beru yang merupakan salah satu desa penerima Program PAMSIMAS TA 2008 yang terletak di Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Di Tanah Beru ini, masyarakatnya berhasil melaksanakan dan mengembangkan hasil pembangunan program PAMSIMAS.
 
Dilihat dari sisi kelembagaan tingkat masyarakat, BPSPAMS PAMSIMAS Kelurahan Tanah Beru dapat dinilai sudah mandiri. Dilihat dari jumlah dana yang tersimpan di kas BPSPAMS sampai April 2012 ini, tercatat sudah mencapai sekitar Rp 30 juta (tiga puluh juta rupiah).
 
Usman warga Kelurahan Tanah Beru ini menuturkan, sejak memasang meter air dari program PAMSIMAS, penghasilan usaha ternak ayam potong yang berada di belakang rumahnya, menghasilkan keuntungan bersih Rp 2.500.000,- (dua juta limaratus ribu rupiah) per bulannya. Efesiensi waktu tersebut mampu menggerakkan dan meningkatkan usahanya jadi lebih menguntungkan.
 
berita03012013-bSebelum ada air dari program PAMSIMAS, Usman mengaku harus mengambil air di sumber air yang jaraknya sekitar tujuh kilometer dari kampung menggunakan kuda. Tapi kini hanya tinggal putar kran saja di rumahnya.
 
Sekarang air sudah tinggal putar kran dan kuda beralih tugas dari kendaraan mengambil air, menjadi kendaraan angkut hasil kebun, tutur Usman.

Yunus selaku Koordinator LKM Tanah Beru pun tidak tinggal diam melihat peluang usaha yang dikembangkan oleh masyarakatnya. Selain membina BPSPAMS, Yunus dan kepala desa aktif melakukan pembinaan kepada warganya yang mulai merintis usahanya. Mereka juga meluangkan waktu mengunjungi warga, untuk memotivasi dalam peningkatan usaha.
 
Saat ini di Tanah Beru sudah ada puluhan pengusaha ternak ayam potong seperti halnya Usman. Selain ternak ayam, ada juga masyarakat yang mulai membuka usaha pembuatan batu bata sejak terakses air bersih di rumahnya.
 
Keberhasilan program PAMSIMAS di Kelurahan Tanah Beru ini tak luput dari peran Pemerintah Desa, Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) dan Badan Pengelola Sarana Air Minum dan Sanitasi (BPSPAMS) yang ada di kelurahan.
 
Komitmen untuk memelihara dan memperluas jaringan, menjadi target utama demi memperoleh akses air minum yang layak, bagi warga desa yang bertahun-tahun merindukan kemudahan mendapatkan air untuk kebutuhan hidupnya.
 
berita03012013-cHal yang sama terjadi di Desa Larike, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, yang merupakan desa replikasi program PAMSIMAS tahun 2010. Suksesnya pengurus BPSPAMS dan warga masyarakat, mengelola dan memelihara sarana air minum dan sanitasi, mereka mengembangkan usaha ekonomi produktif yaitu dengan membangun kelompok usaha nelayan.
 
Dari pengalaman di BPSPAMS itu, pengurus BPSPAMS memberanikan diri meminjam uang dari bank sebagai modal usaha. Modal yang didapat itu dikembangkan untuk usaha bubu atau alat penangkap ikan yang terbuat dari bambu. Dari 1 buah bubu tersebut, dapat menghasilkan tangkapan ikan rata-rata 2-5 kg per dua hari. Hasil tangkapan ikan dengan bubu tersebut sudah cukup tersebar di beberapa desa sekitar. Bahkan beberapa warga Kota Ambon sudah mengenal Desa Larike sebagai penghasil ikan.
 
Salim Sia selaku Bendahara BPSPAMS mengatakan, dari hasil usaha tersebut, sebagian hasilnya dimasukkan ke kas BPSPAMS untuk pengembangan dan pengelolaan sarana air minum yang telah dibangun. Saking terkenalnya usaha bubu Desa Larike ini, masyarakat menyebutnya bubu PAMSIMAS.
 
Sementara sarana yang dibangun PAMSIMAS Desa Larike adalah 1 unit broncaptering, 1 unit reservoir, dan 6 KU sesuai RKM. Kondisi sekarang sudah membangun dengan swadaya untuk 1 KU dan siap bangun 1 KU lagi.
 
Untuk SR (sambungan rumah) sebanyak 59 KK dari 130 KK yang diintervensi PAMSIMAS. Masuknya program PAMSIMAS di desa ini, membawa pencerahan pada mata pencaharian warga sebagai nelayan. (Endang SR- Sekber Program PAMSIMAS;Rita)
 

Tidak disertai video terkait.