top banner
  I  

Selasa - 01 Juli 2014 06:12:53 WIB

Tercemar Limbah Batik, warga Mengandalkan Air PAMSIMAS

Berita
Administrator | dibaca: 50776 pembaca

Tercemar Limbah Batik, warga Mengandalkan Air PAMSIMAS

 

Sumur warga tidak bisa dimanfaatkan karena tercemar limbah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga mengandalkan air dari program PAMSIMAS.

 

Pekalongan - Awal tahun 2014, air di bak mandi yang bersumber dari sumur di rumah Ayub Khan, di Kelurahan Pringlangu, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Jawa Tengah berubah warnanya. Air yang semula jernih telah berubah menjadi merah tua, berbusa dan baunya sangat menyengat. Ayub Khan bertambah kaget saat melihat ikan-ikan yang ada di kolamnya tiba-tiba mati.

limbah batikDiduga, berubahnya warna air sumur dan matinya ikan-ikan di kolamnya karena tercemar limbah batik serta usaha pencucian jin yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.

"Sejak mengetahui air sumur tercemar limbah, saya tidak berani lagi menggunakan air sumur untuk mandi. Apalagi untuk dikonsumsi sehari-hari. Saya beralih menggunakan air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum)," terangnya, Kamis (26/6).

Di tempat terpisah, sumur-sumur warga di Kelurahan Pabean, Kecamatan Pekalongan Utara, airnya juga berubah warna.

"Airnya berasa asin dan warnanya berubah-ubah. Kadang coklat, kadang merah," tutur Hidayat, salah seorang warga Kelurahan Pabean saat mengantre air bersih di lokasi kran air yang bersumber dari sumur program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di kelurahan tersebut.

Setelah sumur warga tidak bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,warga Kelurahan Pabean sepenuhnya bergantung pada air PAMSIMAS dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setiap sore, warga antre di sejumlah titik lokasi kran air PAMSIMAS untuk mendapatkan air bersih.

Sementara itu, warga di Kelurahan Pasirsari, Kecamatan Pekalongan Barat sudah terlebih dahulu kehilangan sumber air bersih, karena sumur-sumur warga airnya juga tidak bisa dikonsumsi karena tercemar limbah batik. Warga di Kelurahan Pasirsari juga mengandalkan sumur PAMSIMAS untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Namun jika sumur PAMSIMAS rusak, warga harus mengambil air bersih hingga ke luar wilayah. Yakni di Desa Tegaldowo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan.

Berdasarkan pengujian yang dilakukan Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Pekalongan di sumur warga di Kelurahan Pringlangu pada Maret lalu, menunjukkan kandungan beberapa zat melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII Tahun 2002 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Di antaranya kadmium.

Dari hasil analisa, kandungan kadmium air sumur tersebut 0,007 miligram per liter. Sedangkan kadar maksimum yang diperbolehkan 0,03 miligram per liter. Sementara dari parameter fisik, warna air keruh kekuningan, berbau dan berasa. Temperatur mencapai 27,6 derajat celsius. Sedangkan temperatur yang diperbolehkan kurang lebih 3 derajat celsius.

Hasil pemeriksaan sampel air sumur warga di Kelurahan Pasirsari yang dilakukan KLH Kota Pekalongan pada tahun 2011 menunjukkan kandungan beberapa zat juga melebihi baku mutu yang disyaratkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Di antaranya tembaga (cu), mangan (Mn) dan amonia (NH3N).

Pada sampel pertama, kandungan tembaga 0,20 miligram per liter, dan sampel kedua mencapai 2,49 miligram per liter melebihi standar baku mutu tembaga yang hanya 0,02 miligram per liter. Untuk mangan, pada sampel pertama 1,54 miligram per liter, dan sampel kedua 1,65 miligram per liter. Kandungan mangan dua sampel tersebut melebihi baku mutu yang ditetapkan, yakni 0,1 miligram per liter. Kandungan amonia pada sampel pertama 0,83 miligram per liter, dan pada sampel kedua 0,63 miligram per liter. Sementara baku mutu amonia 0,5 miligram per liter.

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan, dari target cakupan penduduk yang mengakses air bersih sebanyak 290.347 jiwa pada tahun ini, hingga Maret 2014 terealisasi 65,96 persen. Artinya, penduduk yang sudah mengakses air minum layak dan berkelanjutan baru tercatat 191.522 jiwa.

Sehingga masih ada 98.825 jiwa belum mengakses air minum layak dan berkelanjutan. Menurut Kepala Bappeda Kota Pekalongan Sri Ruminingsih, kebutuhan air bersih itu terpenuhi dari PDAM dan PAMSIMAS. Sementara sebagian warga memenuhi kebutuhan air bersih dari sumur gali. (suaramerdeka.com)


Tidak disertai video terkait.




BACA JUGA :