top banner
  I  

Rabu - 06 Agustus 2014 04:15:02 WIB

Mochamad Natsir Bersama Cita - Cita Luhurnya

Berita
Administrator | dibaca: 50690 pembaca

Mochamad Natsir Bersama Cita - Cita Luhurnya

 

Mochamad Natsir kini kembali lagi ke Direktorat Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PU, setelah selama 12 tahun bertugas di luar Direktorat Air Minum.

 

Jakarta - Juli 2014 lalu, dilakukan acara Sertijab Direktur PAM oleh Danny Sutjiono kepada penggantinya, Ir Mochammad Natsir, MSc.

Mochammad Natsir akhirnya kembali lagi ke Direktorat Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PU, setelah selama 12 tahun mendapat tugas dan tanggung jawab di luar Direktorat PAM. Pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah 55 tahun silam ini, diangkat menjadi Direktur Pengembangan Air Minum (PAM) oleh Dirjen Cipta Karya, Imam S. Ernawi, menggantikan Ir. Danny Sutjiono yang memasuki masa pensiun.

mochamad natsir

Dalam wawancara khususnya beberapa waktu lalu, orang nomor satu di lingkungan Direktorat PAM ini mengaku bukan orang baru di Direktorat PAM. Jadi secara teknis tidak ada masalah baginya meskipun perlu mempelajari lagi kebijakan-kebijakan nasional tentang air minum yang selama 12 tahun ini tentu banyak yang baru, terutama kebijakan ke depan.

Ia juga mengaku harus mengubah paradigma dalam menjalankan amanah yang kini harus dijalaninya, yang menurutnya sangat berbeda ketika ia bekerja di lingkungan BP Konstruksi yang lebih makro.

"Saya harus switch lagi, dari makro ke mikro. Memang tidak sulit, tetapi juga tidak mudah karena membutuhkan waktu," kata suami dari Niar Pudji Hastuti yang menjalani karir di perusahaan swasta yang bergerak di bidang minyak bumi dan gas alam.

Menjalani tugas barunya, ayah dua putera ini ingat pesan Dirjen Cipta Karya, untuk lima tahun ke depan, bahwa pelaksanaan pekerjaan di Dit.PAM akan berbeda dengan pendekatan lima tahun sebelumnya. Pendekatannya, harus mengedepankan keterpaduan antar-sektor di bidang kecipta karyaan.

Mochamad Natsir menjelaskan, Bidang Cipta Karya menghadapi tantangan berbeda sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, dan sasarannya sangat jelas, yaitu di akhir tahun 2019 dapat diwujudkan capaian 100 persen akses aman air minum, nol persen wilayah kumuh, dan 100 persen akses sanitasi layak, yang disimbolkan dengan "100-0-100".

Menurut ayah dari Muhammad Winniardli (22) dan Radifan Tamjidi (19) ini, bersama jajaran Direktorat PAM, dirinya harus siap bekerja keras mewujudkan target itu, termasuk melaksanakan prinsip keterpaduan untuk mewujudkan permukiman layak huni dan berkelanjutan di Indonesia.

" Di dalamnya bukan hanya termasuk menyediakan air minum yang aman dan berkelanjutan, tetapi juga mengikis habis wilayah kumuh di perkotaan dan mengembangkan permukiman layak huni," tegas lulusan Fakultas Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung ini.

Tidak dipungkiri, Mochamad Natsir mengakui, tantangan ke depan akan sangat berat, namun ia optimistis seluruh jajaran Direktorat PAM sudah mengerti apa yang harus dilakukan.

"Terutama sekali adalah kebutuhan dana yang sangat besar untuk lima tahun mendatang, yaitu mencapai Rp 274 triliun lebih, dengan harapan dari APBN dapat dipenuhi sekitar Rp 90 triliun," katanya.
Namun demikian, menurutnya, berdasarkan sejarah masa lima tahun terakhir, dana APBN untuk air minum sekitar Rp 23 triliun, sehingga jika diperoleh Rp 30 triliun untuk lima tahun ke depan, maka itu hanya sekitar 30 persen saja dari yang diharapkan.

"Karena itu dibutuhkan kerja keras bersama untuk mencari alternatif sumber pembiayaan, termasuk dari APBD, kerja sama pemerintah dan swasta, pinjaman perbankan, investasi dari perusahaan air minum, atau optimalisasi sumber-sumber pendanaan dari masyarakat," kata Mochammad Natsir yang mengawali karirnya di Subdit Perencanaan Teknis, Direktorat Air Bersih, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PU pada 1985.

Pria yang jago beladiri Karate ini juga menuturkan, pesan Dirjen Cipta Karya sangat penting bahwa agar seluruh sektor kecipta karyaan menjalankan fungsi Turbinwas, pengaturan, pembinaan dan pengawasan. Sumber dana dari APBN, menurutnya, sangat terbatas, sehingga tidak bisa mengandalkan proyek-proyek dari pemerintah pusat.

" Mengoptimalkan fungsi Turbinwas adalah sebuah keharusan," tandas penyandang Dan V Karate ini.

Ia juga memandang perlu untuk memperhatikan prinsip-prinsip keseimbangan air, terutama antara supply & demand. Air baku, katanya, sangat terbatas dan tidak selalu ada di setiap daerah, sehingga upaya penghematan air baku sangat penting, termasuk konsep pembangunan SPAM Regional untuk mengatasi ketersediaan air baku yang tidak merata.

"Misalnya untuk air irigasi, seandainya dapat dihemat 10 persen saja dan dikonversi menjadi air baku untuk air minum, maka tentu akan sangat besar jumlahnya. Demikian juga hasil proses penjernihan air limbah menjadi air bersih, dapat dijadikan air baku untuk air minum. Hal-hal itu akan sangat baik untuk menambah air baku bagi air minum," ungkapnya.

Menurutnya, sangat penting upaya sosialisasi kepada seluruh operator layanan air minum dan masyarakat pengguna air agar melakukan tindakan aksi hemat air. Saat ini, katanya, konsumsi air minum di Indonesia per kapita mencapai 170 liter/hari. Dikemukakan, jumlah itu sangat boros dibandingkan tingkat konsumsi di negara-negara maju, sehingga perlu kampanye luar biasa untuk hemat menggunakan air.

"Juga harus dipahami hubungan antara kontinuitas ketersediaan air dan kesadaran perusahaan operator air minum untuk menerapkan tarif yang full cost recovery. Tanpa tarif yang wajar, sulit menyediakan air yang sehat, aman dan berkelanjutan," katanya.

Mengawali karir di Subdit Perencanaan Teknis, Direktorat Air Bersih, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PU pada 1985, setahun setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung, Mochamad Natsir mengaku karirnya mengalir begitu saja sebagai abdi negara, meskipun sebelumnya ia pernah bekerja di PT Nurtanio Bandung selama satu tahun.

Pada tahun 1990, ia berkesempatan mendapat bea siswa dari Kanada untuk melanjutkan pendidikan Strata 2 jurusan teknik lingkungan. Begitu lulus pada 1992, ia langsung mendapat promosi jadi Kepala Seksi Air Minum, Direktorat Pelaksanaan Wilayah Timur II, Ditjen Cipta Karya.

Hingga tahun 2001, Mochammad Natsir masih menjalani karir di Ditjen Cipta Karya, termasuk tahun 1999-200 ketika namanya berubah menjadi Ditjen Perkotaan dan Perdesaan. Hanya diselingi menjadi Pimpro P3P di Sulawesi Selatan (2000-2001),selebihnya tetap di Direktorat Air Minum/Air Bersih.

Hingga pada tahun 2002 ia dialihkan ke Badan Pembinaan Konstruksi & Investasi (Bapekin) sebagai Kepala Balai Kajian Mutu. Tiga tahun berikutnya menjadi Kabag Perencanaan di Badan Pembinaan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia (BPKSDM) dan tahun 2010 diangkat menjadi Kepala Pusat Pembinaan Sumberdaya Investasi di BP Konstruksi. Mei 2014, ia kemudian dilantik sebagai Sekretaris BP Konstruksi.

"Tetapi hanya dua bulan kurang lima hari, saya harus melepaskan jabatan Sekretaris di BP Konstruksi, karena tanggal 4 Juli 2014 saya harus kembali ke rumah saya di Direktorat Air Minum yang telah saya tinggalkan selama 12 tahun," kata Mochammad Natsir sambil tersenyum.

Menyinggung target-target di bidang cakupan pelayanan air minum, termasuk target Millenium Development Goals (MDGs) 2015 sebesar 67,87 persen, Mochammad Natsir mengatakan, target tersebut tetap penting untuk dicapai karena sudah menjadi komitmen bangsa Indonesia bersama negara-negara anggota PBB.

Sebab itu, Mochamad Natsir mengajak semua jajaran Direktorat PAM, bahwa ada yang lebih penting dan lebih mulia dari target-target itu. Prinsip dan orientasi kita ke depan yang paling utama adalah wajib memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.

" Itu cita-cita luhur kita, yaitu melayani masyarakat dengan sepenuh hati," tutur pria berkacamata ini. (Ditpam CMAC)


Tidak disertai video terkait.




BACA JUGA :







    Rizal Faizal
    25 Februari 2012 - 15:01:40 WIB
    asyik aja dehh...
    AwalKembali 1 LanjutAkhir