top banner
  I  

Selasa - 19 Agustus 2014 09:31:59 WIB

Peduli Sanitasi Sukses Usaha Jamban

Berita
Administrator | dibaca: 50837 pembaca

Peduli Sanitasi Sukses Usaha Jamban

 

Sukses memasarkan produk sanitasi, dalam waktu 9 bulan mendapat penghasilan yang luar biasa.

Sikka - Di halaman rumahnya yang tidak begitu luas hanya berukuran 10x4 meter, Lusia Yetti Susanti yang akrab di sapa Yetti ini melakukan usaha mencetak kloset untuk di pasarkan kepada tetangga, dan masyarakat baik dari desanya sendiri maupun desa tetangga.

Berkat ketekunannya dan kemauan yang keras serta motivasi yang kuat, wanita berkulit hitam manis ini mendapat hasil yang luar biasa.

Hanya dalam kurun waktu 9 bulan, terhitung Desember 2013 hingga Agustus 2014, penghasilan yang diperoleh sebesar Rp 338.625.000,-. Jika dirata-rata perbulannya, Yetti menghasilkan sebesar Rp 37.645.000,-.

Bermula dari rasa tanggung jawabnya yang begitu besar terhadap pekerjaannya sebagai sanitarian di Puskesmas Waipare yang mempunyai 2 wilayah kerja yaitu Kecamatan Kangae dan Kecamatan Kewapante, Yetto terdorong memikirkan bagaimana cara agar masyarakat di wilayah kerjanya melakukan peningkatan akses jamban dengan signifikan.

" Saya melihat akses sanitasi masih sangat rendah, bukan saja di wilayah kerja saya tetapi di kabupaten Sikka ini," ucap ibu satu putra dan 3 putri ini.

Beruntung pada Oktober 2013, Yetti pertama kali mengikuti pelatihan wirausaha sanitasi dari program PAMSIMAS di Kupang selama seminggu. Kemudian dilanjutkan mengikuti pelatihan lagi di Lombok Timur Provinsi NTB, 2 minggu setelahnya dari Yayasan Dian Desa.

Pasca pelatihan, Yetti memulai usaha penjualan kloset pada Desember 2013, sebanyak 2 unit kloset dengan modal Rp 50 ribu. Dengan modal tersebut, dibelikan bahan untuk pembuatan 2 buah kloset leher angsa terdiri dari pasir 1 sak seharga Rp 10 ribu, empat kilogram semen putih seharga Rp 10 ribu, semen biasa Rp 20 ribu dan kalsium 5 kg Rp 10 ribu.

Dua unit kloset perdana tersebut berhasil dijual kepada salah seorang caleg partai yang sedang melakukan kampanye untuk membangun jamban di tempat pengungsian akibat meletusnya Gunung Rokatenda seharga Rp 150 ribu.

Dari hasil penjualan tersebut, kembali dijadikan modal untuk membeli bahan pembuatan kloset tahap kedua. Hasilnya, 13 unit kloset leher angsa tersedia di rumahnya. Usahanya kian bertambah dari 13 unit kemudian menjadi 20 unit yang laku keras dibeli masyarakat perorangan dengan harga per unitnya Rp 75 ribu.

Siapa sangka berawal dari keinginannya melihat warga di desanya bahkan kabupaten tempat tinggalnya ini bisa mengubah perilaku dengan buang air besar pada tempatnya (jamban), usahanya makin moncer.

" Harapan saya, semua penduduk desa sudah buang air besar di jamban, tidak lagi di kebun, sungai. Semoga lagi bisa mencapai SBS," tutur lulusan Akademi Kesehatan Lingkungan Kupang tahun 2001 ini.

Pada tahapan selanjutnya, wanita kelahiran 15 Agustus 1980 ini mulai melakukan promosi jamban di masyarakat dan melalui beberapa kantor desa. Sehingga pada April 2014 mendapat cukup banyak pesanan untuk membangun paket jamban tipe 2.1 sebanyak 246 paket (tipe 2.1 ini terdiri dari bangunan dudukan kloset, bak septic tank setinggi 100 cm dan bak lubang resapan setinggi 50 cm).

Sedangkan untuk bangunan atas (rumah dudukan kloset) dikerjakan sendiri oleh pemilik rumah. Paket jamban tipe ini dijual seharga Rp 800 ribu. Ke 246 paket jamban ini dibeli oleh BNPBD (Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Sikka, untuk dibangun bagi masyarakat pengungsian korban meletusnya Gunung Rokatenda.

Usahanya pun makin berkembang, setelah itu, Yetti yang memutuskan menjadi orangtua tunggal bagi keempat anaknya itu mendapat lagi pesanan 1 paket jamban dari masyarakat untuk tipe 3.3.1 (membangun 2 unit dudukan kloset, 1 unit bak penghancur setinggi 150 cm, 1 unit septic tank setinggi 150 cm dan 1 unit bak resapan setinggi 50 cm) sementara untuk bangunan atas dudukan kloset dibangun sendiri oleh pemilik rumah. Jamban tipe ini di jual seharga 4 juta.

Dalam melakukan wirausaha jamban ini, Yetti dibantu ibunya sebagai manajer, tujuh tukang yang terdiri dari satu orang mandor, satu orang kepala tukang dan lima orang tukang dengan gaji dibayar per paket jamban.

Mereka pun sudah mempunyai perusahaan yang berkantor di rumahnya di Jalan Siku Koru Kota Uneng, Kecamatan Alok Kabupaten Sikka, NTT. Usahanya tersebut bernama UD. Centra Produksi Closet dan pada kloset yang di produksinya sudah diberi label/logo bertuliskan 'Sikka Peduli Sanitas' (SPS).

Ketekunan dan kerja keras serta semangat tinggi untuk peningkatak sanitasi membuahkan hasil yang patut diacungi jempol. Sudah ada satu yang deklarasi sebagai desa STBM yaitu Desa Habi. Bahkan Desa Watuliung sudah deklarasi SBS pilar 1 dan pilar 2 serta Desa Langir saat ini dalam tahap persiapan untuk melakukan deklarasi desa STBM. Ketiga desa tersebut berada di wilayah Kecamatan Kangae.

" Saya juga ingin mengembangkan usaha ini, selain jamban sehat, ingin juga punya usaha sedot tinja, karena sudah ada beberapa rumah tangga yang minta itu. Tapi saya masih harus cari informasi ke dinas PU untuk pembuangannya," ungkap Yetti yang juga berharap desa-desa di Kabupaten Sikka terbebas dari BABS serta asri dan ramah lingkungan.

Kegiatan peduli sanitasi di sentra produksi kloset ini mendapat dukungan dari Bupati, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Sikka/PAMSIMAS, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan beberapa NGO. Bentuk dukungan yang diberikan pada wanita yang begitu lugas bertutur kata ini yaitu dengan selalu di libatkan pada kegiatan STBM, menjadi pembicara dalam diskusi masalah sanitasi, menjadi pelatih jika pada pelatihan yang berkaitan dengan sanitasi serta dilibatkan hasil produksi klosetnya pada pameran pembangunan.

Kisah sukses wanita berusia 34 tahun ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua yang peduli terhadap sanitasi. (Siti Hadijah Koordinator STBM Provinsi NTT;Rita)


Tidak disertai video terkait.




BACA JUGA :