top banner
  I  

Air dan Sanitasi Tanggungjawab Bersama

Artikel
Administrator |Rabu - 27 Januari 2016 10:00:04 WIB | dibaca: 50454 pembaca
Oleh : Euis Rahmawati- Fasilitator PAM STBM Kab HSU
 
Kita semua saat ini sedang menikmati buah perilaku orang-orang pendahulu kita, bagaimana mereka memperlakukan sungai, memanfaatkan air, memperlakukan kotoran mereka.
 
berita24102013-bApa yang kita nikmati sekarang adalah sebagai bagian dari buah perilaku orang-orang terdahulu kita. Kecenderungan saat ini bisa dilihat dari masalah lingkungan yang mencapai titik yang mengkhawatirkan. Hampir setiap tahun ada saja pemberitaan banjir, tingginya angka kesakitan yang diakibatkan oleh masalah air dan lingkungan. Khusunya permasalahan yang diakibatkan oleh air dan sanitasi yang buruk.
 
Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai, ungkapan tersebut menggambarkan keadaan lingkungan kita saat ini.
 
Keadaan lingkungan dalam 20 tahun terakhir ini banyak yang berubah, sungai yang sudah tidak diperlakukan sebagai mana mestinya.
 
berita24102013-cKemajuan teknologi saat ini, rupanya tidak di barengi dengan kemajuan terhadap perilaku sanitasi. Masalah air dan sanitasi yang buruk sebagai penyumbang masalah kesehatan yang mempunyai dampak terhadap sosial dan ekonomi di tingkat masyarakat. Jika dibiarkan, masyarakat tidak dapat hidup secara sejahtera dan derajat kesehatan masyarakat pun rendah.
 
Kita semua saat ini sedang menikmati buah perilaku orang-orang pendahulu kita, bagaimana mereka memperlakukan sungai, memanfaatkan air, memperlakukan kotoran mereka.
 
Menarik masa di 50 tahun lalu, air sungai masih jernih, air masih aman untuk dikonsumsi, sampah plastik belum banyak bertebaran.
 
berita24102013-dNamun perlahan keadaan sedikit demi sedikit berubah, air sungai tidak lagi bening, tidak lagi jernih. Padahal kita telah merdeka 68 tahun, dimana gedung-gedung pencakar langit, alat transportasi, alat komunikasi yang semakin canggih, kita lihat dimana-mana. Keadaan ini justru tidak berbanding lurus dengan keadaan air dan sanitasi.
 
Sebaliknya, keadaan air dan sanitasi semakin menunjukkan kemunduran kualitasnya. Kemajuan teknologi saat ini tidak juga berbanding lurus dengan tata cara perlakuan dan pemanfaatan masyarakat, terhadap air dan sanitasi.
 
Meskipun saat ini, masyarakat sudah banyak terpapar informasi maupun edukasi tentang air dan sanitasi, namun rupanya hal tersebut tidak menjamin pemahaman masyarakat terhadap kelangsungan keberadaan air dan sanitasi menjadi penting. Saat ini, rasanya tidak ada satu rumah yang tidak memiliki alat komunikasi berupa telepon genggam.
 
berita24102013-eMereka akan merasa sangat tertinggal jika tidak memiliki telepon genggam. Nah pemahaman tersebut, juga seharusnya ada dibenak masyarakat bahwa jika tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang layak, harinya belum sempurna.
 
Banyak kasus yang ditemui di lapangan, dimana masyarakat lebih memilih mengeluarkan uang untuk kebutuhan sekunder, seperti membeli sepeda motor dibandingkan dengan mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan sanitasinya.
 
Tidak hanya itu, di beberapa daerah pinggiran sungai banyak ditemui, rumah permanen lengkap dengan alat-alat transportasi namun pembuangan sanitasinya masih dilakukan di sungai.
 
Ada dua kecenderungan yang sering ditemui di masyarakat yakni masyarakat pinggiran sungai. Pada umumnya masyarakat menghalalkan segala aktivitas yang berhubungan dengan air minum dan sanitasi. Provinsi Kalimantan Selatan yang selama ini terkenal dengan julukan kota seribu sungai. Sungai sebagaimana umumnya, dan Kalimantan Selatan khususnya dijadikan sebagai pusat aktivitas masyarakat selama 24 jam, mulai dari sarana transportasi, tempat perdagangan, mata pencaharian, mengambil air untuk keperluan makan dan minum, mandi, membuang sampah, sampai membuang kotoran.
 
Kecenderungan yang kedua bisa ditemui di wilayah pinggiran sungai dan berbatasan langsung dengan wilayah rawa seperti yang bisa dilihat di wilayah rawa yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan.
 
berita24102013-fUmumnya komunitas di daerah rawa melakukan segala aktivitas diatas air rawa, mulai dari pemenuhan kebutuhan air minum, sanitasi, memelihara ternak/itik, membuang sampah rumah tangga, sampah sisa aktifitas pembuatan meubelar.
 
Bisa dibayangkan keadaan tersebut. Rumah yang dipenuhi dengan sampah, kotoran, dan kemudian air genangan tersebut kadangkala digunakan untuk air minum jika sarana air bersih sedang mengalami kerusakan.
 
Kini sungai sudah mengalami pergeseran fungsi, aliran sungai sudah dijadikan tempat pembuangan akhir segala kotoran terpanjang dan paling murah.
 
Banyak sekali ditemui sungai-sungai sepanjang Sungai Martapura, sungai Negara/kali Negara dijadikan tempat buangan sampah kotoran manusia, kotoran ayam, kotoran ikan, plastik, botol, kertas, kotoran padi sampai limbah batubara. Plastik bekas minuman merupakan plastik yang paling banyak ditemui di pinggiran sungai.
 
Ketika ditanya mengapa masyarakat masih sering melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut. Sebagian besar jawaban yang sering keluar dari pernyataan mereka, adalah masalah ekonomi. Mereka mengakui, terpaksa membuang kotoran ke sungai, terpaksa pula menggunakan air sungai untuk kebutuhan air minum.
 
Namun apakah benar, alasan ekonomi merupakan alasan yang utama, sehingga mereka meneruskan kebiasaan yang buruk terhadap generasi penerusnya? Selain alasan lain yang sering terlontar dari masyarakat adalah karena faktor kebiasaan dari orang-orang terdahulu yang seakan-akan memberi makna bahwa cara memperlakukan sungai secara tidak manusiawi. Sehingga akhirnya hasil ajaran tersebut sudah dirasakan oleh semua orang yang berada di bantaran sungai.
 
berita24102013-gBanyak upaya perbaikan air dan sanitasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat melalui beberapa program pemberdayaan masyarakat, yang berusaha untuk merubah keadaan air dan sanitasi.
 
Namun jika upaya perbaikan sarana air minum dan sanitasi tersebut tidak dibarengi dengan upaya perbaikan cara berpikir masyarakat terhadap sanitasi, tidak akan merubah keadaan secara maksimal.
 
Perlu sebuah usaha lebih dari kegiatan pemicuan. Karena sering kali kegiatan pemicuan yang telah dilaksanakan, dalam setahun pertama berhasil dilaksanakan. Namun tahun kedua kejadian serupa terulang lagi, karena kontrol yang kurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Jamban-jamban sepanjang sungai malah terbangun lagi.
 
Namun tidak ada kata terlambat saat kita ingin menyelamatkan sungai-sungai yang ada di wilayah Kalimantan Selatan khususnya dan aliran sungai di Indonesia pada umumnya.
 
berita24102013-hEdukasi air dan sanitasi yang berkelanjutan, merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan agar generasi penerus memiliki kerangka berpikir yang baik terhadap sanitasi.
 
Usaha ini hendaknya diperhatikan oleh semua sektor. Karena masalah air dan sanitasi tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor pekerjaan umum dan kesehatan, namun sektor endidikan juga ikut bertanggung jawab terhadap kerangka pikir sanitasi.
 
Bukan tidak mungkin edukasi sanitasi dapat dijadikan kurikulum muatan lokal daerah yang berada di sepanjang sungai.  
 

Anak-anak sebagai agen perubahan, diharapkan dapat melakukan perubahan terhadap keadaan sanitasi di wilayahnya. Semoga 5 sampai 10 tahun yang akan datang, kita sudah mencicipi manisnya perubahan perilaku yang baik, benar dan sehat.


Tidak disertai video terkait.